Perkelahian Antara Resto Veggie dan Resto Makanan Saji

Ibu Pita adalah seorang koki yang handal. Masakannya top markotop. “Mak nyusss”, kalau kata pak Bondan. Spesialisasinya adalah pada makanan-makanan vegetarian. Itu tuh, yang bahan keseluruhan dari sayur-sayuran, gak ada dagingnya.
Hari ini, hati bu Pita berbunga-bunga. Saking berbunga-bunganya, pita rambut yang ia kenakan pun ia pilih yang bermotif bunga  matahari. Pasalnya, resep yang sudah ia test drive selama berbulan-bulan akhirnya jadi juga dengan sempurna. Bu Pita yakin, siapapun yang makan makanan dengan resep terbarunya ini pasti akan langsung klepek-klepek. Saking nikmatnya. Sesampainya di Mall Ades, bu Pita terlonjak. Kaget.
Ternyata counter di samping tempat ia berjualan telah ditempati oleh orang baru. Penjual makanan juga, depot “Paqed” namanya. Entah apa artinya, bu Pita tidak peduli. Yang jelas, yang bikin bu Pita dongkol, makanan yang dijual adalah yang berjenis fast food dan junk food.
Huekkk, ngebayangin aja bu Pita udah mual-mual.
Tapi oke lah, pikir bu Pita, namanya juga orang jualan. Terserah dong ia mau jual apa. Toh ini juga tempat umum, bukan mall milik bu Pita sendiri. Dan pastinya, “tetangga” sebelah juga sudah bayar mahal untuk biaya sewa stand.
Hari pertama dan hari kedua dilalui.
Memasuki hari ketiga, bu Pita sudah tidak bisa menahan diri lagi. Bagaimana tidak? Bau makanan dari oven si penjual fast food terasa sampai stand miliknya. Jelas saja, lha wong bersebelahan. Ditambah lagi, pelanggan-pelanggannya suka membuang bungkus bekas makanan sembarangan.
Kalo cuma satu dua sih gpp. Ini banyak banget. Bahkan sampah dari sebelah justru lebih banyak dari sampah buangan milik stand bu Pita sendiri. Alhasil, pelanggan-pelanggan bu Pita jadi males berkunjung dan resep terbaru yang ia bangga-banggakan menjadi tidak laku.
Lebih parahnya, pengelola mall Ades hanya menyediakan sebuah keranjang sampah kecil di setiap stand. Jelas tidak cukup untuk menampung seluruh sampah-sampah itu.
Protes ke pengelola? Percuma. Dulu waktu ada yang berjualan makanan-makanan vegetarian dengan harga murah, ia sudah sempat protes karena keuntungannya menurun drastis. Tapi pihak pengelola tidak melakukan apa-apa karena yang lain juga sudah menyewa tempat untuk berjualan. Sudah bayar lunas pula. Untungnya waktu itu kompor mereka meledak, jadi akhirnya mau tidak mau terpaksa harus tutup stand. Setelah menyiapkan materi dan berlatih semalaman, di hari keempat bu Pita mendatangi depot Paqed. Dipanggilnya bu Rini, pemilik depot itu. Tanpa ba bi bu, langsung saja ia menyemprot (dengan kata-kata, bukan dengan air) bu Rini masalah sampah yang dibuang oleh pelanggannya. Bu Rini pun tidak terima karena sama halnya dengan bu Pita, standnya pun hanya mendapat jatah sebuah keranjang kecil. Dan sampai sekarang sepertinya mereka masih sering berselisih paham dan belum menemui titik tengah.

Status: Belum Tahu

Tim kami sedang menyelidiki kisah ini – kalau pembaca ada info tolong menghubungi kami di page contact – terima kasih.

Redaksi,

February 9, 2008, 1:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s