Solaria Oh Solaria…Lagi?!?!?!

Dear All,

Saya mau berbagi pengalaman soal makan di Restaurant Solaria. Sebenarnya ini adalah pengalaman saya pribadi yang ketiga, setelah sebelumnya sudah pernah mengalaminya ada lalat ijo dan anak kecoak berenang-renang sampai mati di dalam makanan yang saya pesan. Tapi untuk kedua pengalaman sebelumnya saya tidak memiliki bukti otentik. Dan untuk yang ketiga kalinya, (finally!!!) saya punya bukti. Silahkan disimak kisah saya berikut.

Hari itu, tanggal 19 Agustus 2007, sepulang dari berlibur sekeluarga ke kota kelahiran saya Cirebon, kami tiba kembali di perumahan tempat tinggal kami yaitu di Gading Serpong sekitar pukul 19.30 WIB. Dan karena sudah lelah kami memutuskan untuk mencari makan malam di sebuah mal yang baru diresmikan di perumahan kami itu. Sekali lagi, karena lelah kami mencari makan yang kami anggap simpel dan cukup enak supaya kami dapat segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Akhirnya kami putuskan untuk makan di Restaurant Solaria yang terkenal karena makanannya yang cukup enak, banyak ragamnya, dan yang penting lagi, untuk sebagian orang dianggap cukup murah.

Setelah menanti sekitar tiga puluh menit, akhirnya makanan kami tersedia. Namun di tengah keasyikan menikmati nasi bistik sapi goreng tepung yang saya pesan, saya melihat sesuatu yang agak aneh. Mula-mula saya mengira itu adalah potongan kulit salak. Dan saya menjadi bingung, bagaimana potongan kulit salak bisa ada di tengah-tengah sayuran pendamping nasi yang menjadi bagian dari paket itu.

Setelah saya lihat berulang-ulang akhirnya saya “putuskan” bahwa itu adalah sisa/potongan tubuh kecoak. Kontan kami sekeluarga yang terdiri dari enam orang berhenti makan dan tidak sanggup melanjutkan makan malam meskipun perut lapar. Saya langsung complain, tetapi untuk mengantisipasi sikap kurang bertanggungjawab dari pengurus, saya sempat mengambil gambar dengan kamera saku digital yang kami bawa untuk berlibur. (Saya teringat kasus restoran jepang siap saji, jadi supaya aman saya foto dulu).

Hasil gambar itu dapat Anda lihat sendiri, potongan tubuh kecoak yang menjijikkan. Dan jika Anda tanya mana sisa bagian yang lainnya, tentunya sudah hancur tercampur baur dengan cap cay yang tengah kami nikmati sekeluarga dan turut serta menambah “vitamin dan protein” makanan kami.

Jadi kalau mau makanan sehat, nikmat dan murah ke Solaria saja ya…. Kalau saya sih, biar kiamat nggak bakalan dech makan di tempat itu lagi. Tiga kali, cukup sudah.

C. Sugiarto. G

Gading Serpong – Tangerang

—-

Dear All,
Telah beberapa bulan saya menjadi member di milis ini dan mohon maaf jika selama ini saya hanya menjadi member pasif. Perkenankanlah pada kesempatan ini saya menyampaikan uneg-uneg atas apa yang baru saja saya alami ketika makan di restoran SOLARIA.

Sesuai dengan pernyataan lisan yang saya berikan kepada pihak SOLARIA dalam hal ini saya sampaikan kepada sdri. Ema (Kasir) jika dalam waktu 2 hari/sampai dengan hari Senin tanggal 24 September 2007 pihak manajemen SOLARIA tidak juga menghubungi saya perihal keluhan/kekecewaan yang saya alami, saya akan mempublikasikannya kepada khalayak ramai melalui media massa.

Pada hari Sabtu tanggal 22 September 2007, Saya bersama 2 orang teman saya memutuskan untuk makan malam di restoran “SOLARIA” yang bertempat di gedung OIL CENTER, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat (depan EX). Berhubung saya tidak terlalu lapar, saya memilih “Mie Ayam Bakso” dan “Es Teh Manis” dari menu yang ditawarkan sementara kedua teman saya memilih menu yang berbeda.

Sekitar 10 menit kami harus menunggu sampai akhirnya semua makanan yang kami pesan tersedia di hadapan kami. Pada waktu itu suasana disana cukup ramai karena bertepatan dgn waktu berbuka puasa sampai saya harus menunggu cukup lama hanya untuk sekedar meminta tambahan kuah karena mie ayam yang saya makan terasa agak asin. Setelah kuah tambahan datang, saya menuangkannya ke dalam mangkuk mie ayam sambil mengaduk-aduk mie dan pernak-perniknya yang sudah tinggal separuh, dengan terkaget-kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat, saya menemukan sosok serangga berwarna coklat yang saya yakini sebagai “kecoa”. Temuan saya ini saya konfirmasikan kepada kedua teman saya untuk meyakinkannya dan kontan kedua teman saya berhenti menyantap makanannya masing-masing. Temuan saya ini akhirnya saya beritahukan ke salah seorang pelayan dengan pertanyaan basa-basi: “Apa ini mbak?”

Pelayan tersebut langsung mengambil mangkuk mie ayam tersebut dan menyatakan permohonan maaf dan menawarkan akan mengganti yang baru sambil pergi kembali masuk ke dapur. Saya dan teman-teman saya hanya bisa tertegun. Pasalnya bukan permintaan maaf dan penggantian makanan yang saya butuhkan saat itu tapi klarifikasi dari pihak manajemen SOLARIA perihal mengapa hal ini sampai terjadi.

Kembali saya memanggil pelayan-pelayan di sana dan meminta apakah saya bisa bertemu dengan supervisor atau “duty manager” yang ada. Saya berusaha untuk sesopan mungkin memintanya karena saya tidak mau menggangu pelanggan yang lain yang sedang berbuka puasa namun nampaknya permintaan saya ini tidak diperhatikan dengan serius atau malah saya menduga segaja ditutup-tutupi.

Seorang pelayan bernama Susi mengatakan bahwa hari itu tidak ada siapa-siapa, tidak ada supervisor ataupun duty manager. Saya memintanya untuk menghubungi via telefon. Sekali lagi dikatakan bahwa pihak manajemen SOLARIA tidak dapat dihubungi. Semakin kesal akhirnya saya meminta nomer handphone yang bisa saya hubungi untuk menyampaikan keluhan saya ini. Sebuah nomer handphone diberikan atas nama ibu Iroh. Terus terang tidak jelas apa jabatan ibu Iroh ini. Teman saya membantu saya menghubungi nomer tersebut dan menyampaikan keluhan saya namun ketika diminta utk datang ke lokasi, ibu Iroh ini tidak bersedia.

Saya sangat menyayangkan restoran sekelas SOLARIA ini tidak melengkapi bisnisnya dengan layanan online service untuk pengaduan pelanggan. Karena sudah tidak sabar menunggu akhirnya kami bertiga memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan meninggalkan pesan-pesan kepada Sdri. Ema (kasir). Saya menuliskan nama lengkap saya beserta nomer handphone saya dan memintanya untuk menyampaikannya kepada pihak manajemen SOLARIA untuk menghubungi saya. Saya tidak meminta uang saya kembali karena saya menganggap masalah ini belum selesai. Saya mengatakan jika dalam waktu dua hari (sampai dengan hari Senin, 24 September 2007) pihak manajemen SOLARIA tidak juga memberikan tanggapan/klarifika si atas keluhan saya, saya akan mempublikasikan pengalaman saya ini ke media masa.
Mulai saat itu saya meragukan higienitas dari makanan-makanan yang disajikan SOLARIA. Saya hanya bisa berharap kejadian yang menimpa saya ini tidak terjadi lagi kepada pelanggan-pelanggan SOLARIA yang lain dan semoga SOLARIA bisa lebih “jantan” dalam menjalankan bisnisnya.

Salam,
Andreas Setiarama
andreas.setiarama@id.abnamro.com
andreassetiarama@gmail.com
Keluhan lagi yang terdapat di:
http://www.detikforum.com/archive/index.php/t-10191.html

Ini pengalaman gw beberapa waktu lalu…saat gw abis meeting di daerah serpong, dan makan siang di Mall Summarecon Serpong, Solaria, mewah Tempatnya, murah harganya dan SUCK BINATANGNYA…gw punya bukti2 dengan Video dan gw dah minta pihak solaria meminta maaf secara tertulis dan mereka langsung menantang gw dengan kasarnya…huh…semoga tempatmu di tutup solaria…jangan banyak alasanlah…kalau memang dr dapur loe yang kotor yach gw cuma minta surat tertulis permohonan maaf kalau terjadi sesuatu dengan gw…dah cukup…gw kesal..ya gw post saja di sini…karena tak ada niat baik dr solaria yang hanya saya minta adalah…SURAT PERMOHONAN MAAF ATAS PELAYANAN.. BUKAN PENGANTIAN APA YANG SAYA MAKAN !!

BERHATI-HATILAH DENGAN SOLARIA…TIDAK BERSIH…dan memperlakukan customer SEPERTI SAMPAH !!!

Status: Belum Tahu

Apakah ini benar saja? Tim kami sedang menyelidiki. Dari berbagai kasus yang dialami para konsumen SOLARIA (di cabang yang berbeda-beda), kami sedikit demi sedikit jadi percaya bahwa cerita ini BENAR. Tetapi kami baru dapat menelusuri keberadaan satu penulis saja, yaitu Andreas Setiarama yang berkisah pada cerita ke-2 (lengkap dengan alamat emailnya, ada blognya juga). Kalau yang 2 lainnya C Sugiarto (Gading Serpong) dan ……. Apakah bisa memberi identitas yang jelas??? Mungkin OOT, tapi mungkin ada benarnya juga: Dari http://www.mail-archive.com/stieykpn@googlegroups.com/msg02360.html Wing Wahyu Winarno menulis: Mmm, saya sebenarnya tidak mempermasalahkan pokok permasalahannya (yaitu ada kecoa or binatang lain di makanan yang disajikan di Solaria, kalau memang begitu yang memang harus kita komplain). Tetapi yang ingin saya “ajarkan” kepada Anda semua (yg rata2 lebih muda dari saya), dalam menyampaikan sesuatu HARUS BERTANGGUNG JAWAB dan MENGGUNAKAN ETIKA. Mengapa tidak pakai etika? Huruf kapital semua, warna merah, ejaan banyak yang salah (ini menunjukkan penulisnya sangat emosional, dan orang yang emosional, PASTI NALARNYA TIDAK JALAN). Kalau Anda menyampaikan berita tersebut dan saya komplain: kok tidak pakai etika e-mailnya? Kan milis ini berisi orang-orang terpelajar? Anda mungkin akan menjawab: O, saya cuma meneruskan kok.

Nah, kalau begitu, Anda akan dinilai (ikut2an) tidak bertanggungjawab dan tidak beretika, kan sayang (meskipun Anda juga bisa bilang: terserah aja kok orang menilai saya, yang penting saya begini, toh selama ini saya juga hidup). Saya sendiri sih tidak membaca detail e-mail aslinya, karena membaca tulisan tanpa kaidah kan sayang mata saya. Meskipun demikian, saya perhatikan inti masalahnya, lalu saya kontak sana-sini, sms sana-sini, akhirnya dapat e-mailnya boss Solaria, saya e-mail dia, saya ceritakan saya dapat e-mail di milis, dan akhirnya, saya ditelpon, dan ujung-ujungnya:

  • Saya dipersilakan mengunjungi restoran Solaria mana saja untuk melihat proses di dapurnya, karena ternyata sudah buka di 18 kota di Indonesia, dan
  • Bila bisa atur waktu untuk bertemu dengan bossnya, saya akan ditemani makan siang atau makan malam di Solaria kapan pun saya mau, tanpa perlu bayar (saya jawab: oh, saya harus bayar, kalau jus alpokatnya digratisin, baru mau saya, gitu hehehe). Beliau mengatakan e-mail seperti itu bukan yang pertama, sehingga beliau tidak kaget. Meskipun sama-sama menyampaikan e-mail yg sama, tetapi hasilnya beda ‘kan? Nah, kalau Anda semua ingin dihargai dan dihormati orang, hargailah dan hormatilah orang lain. Gampang kok. Itu tidak hanya diperlukan dalam berbisnis dan bekerja, tetapi juga dalam bertetangga dan bermasyarakat. Seperti juga kata (sebagian dari) Anda, Anda mau baca e-mail saya ini monggo, nggak mau ya tinggal pencet tombol Del, selesai. Gitu aja kok repot (ya nggak ya nggak ya nggak?). Selamat berpuasa bagi yang menjalankan, selamat bersiap merayakan lebaran. Mohon maaf lahir batin, selamat berlebaran. Semoga kita semua selalu mendapat limpahan rahmat dan hidayah dari Allah s.w.t. Amin. http://maswing.wordpress.com

Referensi:

http://www.mail-archive.com/stieykpn@googlegroups.com/msg02360.html 

Redaksi,

February 9, 2008, 1:28 am

5 thoughts on “Solaria Oh Solaria…Lagi?!?!?!

  1. parah bgt memang solaria itu,w baru kmrn makan sama cwe w disolaria bintaro plaza pelayanannya sangat parah,meja kotor basah sudah minta tolong ke 4 waiters tp g ada yg mw bersihkan,waiters pertama sudah sekalian kasih menu tetep tidak mau ambil kain untuk mengelap meja ,waiter kedua dipanggil karena sudah pilih pesannya datang dengan muka yg sangat tdk sopan padahal keadaan sepi dia hanya minta uang dan cara mintapun sangat tidak sopan dan mengembalikan kembalian cuma di geletakin dimeja tanpa ngomong apa2,dan sudah dimintain tolong suruh bersihkan meja dulu tapi tetap tidak dibesrsihkan,yang waiters ke 3 antar minuman dan sama minta tolong mba tetep tidak bersihkan,yg ke empat antar makanan w bilang mba saya makan di tmpt yg basah begini bisa mnta tolong dibersihkan dlu ,tetap pergi dan tidak kembali…apakah solaria tidak punya SOP Buat karyawannya x y,,sampai w kesel bgt sama cewe w,w tulis di struknya pelayanannya kaya tai anjing ,g ada yg pnya sopan santun,dan w tumpahin sambal di mejanya biar dibersihkan..sangat kecewa dan janji w dan keluarga tidak akan makan ke solaria manapun …

  2. Sy sih tidak pernah mengalami teman2 diatas mengenai ada kecoa dalam makanan. Sy sering makan solaria di mall WTC BSD. Yg sy sesalkan pelayan yg tidak ditranning dgn baik. Setiap kali makan disana, dan saat disiapkan, makanan yg belum dikasih ke custamer ditaruh dimeja pramusaji yg tingginya sampai seleher. Saat makanan tersebut diposisi itu para pramusaji terus berbicara dan tertawa diatas makanan tsb. Sgt tidak higenis dan ada rasa jijik. Tolong manageement perhatikan

  3. Benar sekali yang diutarakan teman-teman, belum lama ini saya makan di restouran solaria di daerah BSD, Tangsel pada tgl : 22-Desember 2013, sore hari, saya kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak solaria, pertama dengan costumer tidak ramah, kedua : bercada di depan dengan teman, yang ketiga : berteriak didepan costumer, dan pelayanannya sangan tidak ramah, untuk pihak solaria tolong ditanggapi…..

  4. wah saya juga pernah tuh.. waktu itu saya bersama teman saya makan di solaria Lippo karawaci yang di sebelah XXI nya… saya pesan chicken steak.. dan parah nya sebelum saya makan d checken steak saya ada belatung nya… X_X
    parah nya pelayan tidak meminta maaf… hanya langsung mengganti makanan saya_
    masih di tempat yang sama saya juga pernah melihat tikus berkeliaran di dalam solaria itu…
    dan yang terakhir ketika saya makan di solaria citra raya, di pojokan jendela nya itu banyak banget lalat ijo nya…. iuhhhhh…. bikin ngga nafsu makan bgt deh_
    pokoknya kapok bngeet deh makan di solaria….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s